Minggu, 30 Desember 2018

SIAPA

Aku
Siapa
yang mencintai rangkaian alfabet dengan seluruh kekuatan magisnya
tapi tertampar kondisi
berteman dengan deret angka, simbol, dan kawanannya

Aku
Siapa
yang diperjuangkan hingga terbaliknya badan
yang ditangisi ditiap pertiga malam dalam sembah sujudnya

Aku
Siapa
kepadanya mimpi ini diperuntukkan

Tidak dikenal
Siapa
Kepadanya tangis lelah putus asa diceritakan
Kepadanya kelam malam dikeluhkan
Kepadanya cermin yang tak lagi menampilkan bayang ditanyakan

Surabaya, 14 Desember 2018
-Cru-

Sabtu, 10 Maret 2018

Wanita dan Pilihannya pt.2

Halo, ini Cru.

Jadi, saya mau menambahkan update terbaru tentang tulisan "Wanita dan Pilihannya"
Pagi ini saya membaca berita kalau akhirnya UIN Sunan Kalijaga (UINSUKA) akhirnya mencabut peraturan larangan bercadar bagi mahasiswinya.

And yeah, selamat untuk kalian para mahasiswi yang bercadar :)
Tetap istiqomah dengan hal-hal positif yang tengah kamu lakukan.
Teruslah belajar demi mencapai impianmu dan menjadi wanita yang lebih baik lagi.
Dan perkuat rasa nasionalisme dalam diri kalian.

Penting untuk kalian ingat karena Indonesia ada dan bisa merdeka dari penjajahan bangsa asing sebab usaha dan perjuangan para pahlawan dan pendahulu kita yang berasal dari berbagai suku, agama, dan ras.

Jadi, tetap semangat para wanita Indonesia!


Salam
Surabaya, 11 Maret 2018
-Cru-


ps : pesan tadi juga berlaku untuk seluruh orang ya, bukan hanya para muslimah dan wanita saja :)

Kamis, 08 Maret 2018

Wanita dan Pilihannya


Hari Perempuan Internasional

Jujur saya sendiri bukanlah pribadi yang paham betul mengenai latar belakang adanya peringatan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 9 Maret ini. Saya juga bukan pribadi yang terlalu mendalami keilmuan tentang Hak Asasi Manusia (utamanya wanita) serta keilmuan tentang agama sedalama-dalamnya. Tapi, 2 postingan di sosial media Line yang saya baca hari ini benar-benar membuat saya terkejut. Dua buah postingan yang menyinggung masalah “bercadar”.

Postingan pertama membicarakan tentang kejadian kemarin sore (8/3/2018), dimana sore itu Surabaya tengah dilanda hujan angin dan menyebabkan banjir di beberapa lokasi. Dari screnshoot story Instagram yang diposting, si laki-laki (yang akan kita sebut dengan A) ini melihat 2 wanita bercadar yang mengendarai sepeda motor di jalur tengah. Jelas dengan genangan air yang “katanya” cukup dalam kedua wanita itu tentu saja basah pakaiannya karena cipratan air dari motor dan mobil di sebelahnya. Naasnya lagi mbak yang digonceng pakaiannya tersangkut hingga menyebabkan ia terjatuh.

Apa yang menjadi fokus utama saya adalah tanggapan si A dan juga orang yang me-repost story ini (mari kita sebut dia B) tentang tindakan mbak yang jatuh tersebut (ketika mbak itu menolak bantuan si A dengan alasan bukan muhrim). Saya mungkin tidak paham dan tidak tahu betul bagaimana kejadian tersebut berlangsung, namun tidak etis menurut saya ketika anda menghina orang yang menolak bantuan anda sebab kepercayaan yang dia yakini.

Mungkin anda tersinggung ketika mbak itu menyebut kata “haram” ketika akan anda tolong. Tapi sepengetahuan saya memang dalam agama Islam diharamkan bersentuhan bukan pada muhrimnya kecuali dalam berniaga dan pengobatan (jadi dalam konteks kejadian tersebut mungkin diperboleh karena berniat menolong wallahu’alam). Namun ketika mbak itu menolak tolongan anda, tolong hargai kembali keputusan dia. Terlepas dari agama, pakaian, dan gender seseorang bukankah sudah menjadi suatu norma untuk menghargai keputusan dan pendapat orang lain (selama keputusan dan pendapatnya sesuai dengan ajaran tiap-tiap agama dan peraturan yang berlaku)? (koreksi lagi kalau saya salah).

Postingan kedua membicarakan tulisan opini di koran Republika (Jum’at, 9 Maret 2018) mengenai berita tentang  “aturan larangan bercadar di Universitas Sunan Kalijaga (UINSUKA)”. Jujur posting-an ini lebih membuat saya terkejut dan tidak tahu harus menyikapi yang seperti apa. Mengutip dari Republika mengenai alasan pelarangan tersebut adalah tentang komitmen kampus untuk mendorong pemahaman Islam moderat yang sesuai dengan nilai kebangsaan, sekaligus upaya preventif terhadap adanya indikasi gejala peningkatan radikalisme. Bahkan pihak kampus juga menghimbau kepada para mahasiswi-nya yang bercadar untuk mengundurkan diri dari kampus.

Maaf bukan bermaksud apa-apa, tapi saya setuju dengan apa yang ditulis oleh si C (yang mem-posting ini) bahwa “kampus harus menjadi tempat yang ramah bagi setiap individu untuk memperoleh ilmu pengetahuan tanpa memandang atribut atau simbol yang melekat pada dirinya”.

Apa yang membuat saya benar-benar terkejut adalah kampus yang menerapkan larangan bercadar adalah kampus islam. Isu tentang islam radikal memang harus ditanggapi dengan serius, terlebih ketika ini menyangkut kepentingan orang banyak. Tapi tidak harus dengan melanggar hak orang lain untuk menuntut ilmu hanya karena -sekali lagi- kepercayaan dan pakaiannya bukan? Terlebih lagi menurut saya sebagian mereka yang menggunakan cadar memilih untuk menuntut ilmu di kampus islam sebab mereka merasa nyaman dengan lingkungannya karena tidak akan mendapat pandangan “aneh” dari orang lain, sebab untuk memperdalam agamanya, dan mungkin untuk lebih memantapkan hatinya ketika memutuskan untuk bercadar.

Keputusan untuk bercadar menurut saya merupakan salah satu keputusan terberat yang dipilih oleh seorang muslimah (terlebih ketika ia bukan dari lingkungan keluarga yang mengenakan cadar). Karena Indonesia yang meskipun mayoritas penduduknya beragama islam masih belum terbiasa dengan pemandangan wanita bercadar. Juga karena maraknya isu pemberitaan islam radikal akhir-akhir menurutnya saya membuat stigma negatif tentang cadar pada sebagian masyarakat.

Apa yang ingin saya tekankan disini adalah berhenti menghakimi seseorang oleh apa yang dia kenakan, apa agama dia, dan apa keputusan yang dia ambil (sekali lagi selama keputusan dan pendapatnya sesuai dengan ajaran tiap-tiap agama dan peraturan yang berlaku). Saya tahu hal ini sulit karena jujur saya sendiri masih sering menilai orang dari penampilannya. Tapi mari bersama-sama berusaha memperbaiki diri.



Salam

Surabaya, 09 Maret 2018

-Cru-